Selasa, 10 Agustus 2010

Mencoba bahasa baku :)

Malam ini malam pertama memasuki bulan Ramadhan,sebenarnya aku sangat menyesali mengapa aku harus berhalangan pada tanggal ini,padahal aku ingin sekali shalat tarawih berjamaah di mesjid. Tapi tidak apa-apa lah,tidak baik menyesali apa yang Allah berikan pada kita.
Akhirnya malam ini kuputuskan untuk membaca novel AAC yang kupinjam dari Adam,berhubung novel ini pinjaman,jadi harus cepat kuselesaikan,dan dalam jengka waktu dua hari aku sudah harus selesai membacanya.
Tidak lama Mama memanggilku...
"Ca,bantu Mama,kupaskan bawang merah untuk membuat bawang goreng"
"Iya,Ma,sebentar..", jawabku tenang.
Aku berbaring di tempat tidurku dan tidak bisa melepaskan pandanganku dari novel ini.
"Ca,cepaaat", teriak Mama dari dapur.
"Iya,Ma. Iya aku kesana,tapi sebentar aku ganti baju dulu"
Mau tidak mau aku harus melepaskan novel itu,dan kuputuskan malam ini akan membantu mengupas bawang merah dulu,kuhentikan sejenak membaca novel untuk membantu Mama.
Aku duduk di ruang tengah memegang pisau dan bawang,sambil menonton sinetron kesukaanku KCB,mungkin buat anak seumuranku sinetron ini sangat membosankan dan begitu baku,entah kenapa aku menyukainya,aku menyukai pesan-pesan moral yang ada didalamnya,banyak pelajaran yang kudapatkan dari sinetron yang ditayangkan khusus hanya pada bulan Ramadhan ini.
Dari sinetron ini aku sangat menyukai sosok Husna,dia adalah seorang wanita yang menurutku cantik luar dalam,aku suka caranya tegar menghadapi cobaan yang dialaminya. Menurutku tidak beda jauh dengan apa yang kualami sekarang. Aku kagum padanya,aku kagum pada ketegaran yang dijunjungnya bahkan pada saat-saat tersedih sekalipun. Dia berhati mulia,dia tidak merasa dendam sedikitpun pada orang-orang yang menzoliminya,pada Ustad Eliyas sekalipun yang telah membatalkan pernikahan mereka.
Husna sangat tabah dan sangat memaklumi posisi Ustad Eliyas yang sudah terlanjur dijodohkan dan tidak mungkin menentang Ibunya hanya untuk mendapatkan dirinya.
Pada saat-saat yang sangat menggoncang batinnya,pada saat ia harus menerima kenyataan bahwa Ustad Eliyas harus meninggalkannya dan harus menikah dengan wanita lain,ia tetap tersenyum,ia hanya bisa menitihkan air mata didalam sujudnya pada Allah,aku kagum padanya,sangat hebat bagiku ia bisa menahan sejuta kesedihannya...
Di saat-saat yang menyedihkan seperti ini ada seorang Furqan yang menyukainya,Furqan melamarnya. Ia bingung,ia bimbang,ia bingung keputusan apa yang harus di ambilnya. Furqan pengusaha muda yang kaya,baik hati,agamanya pun sangat bagus,dan sepertinya Furqan sangat mencintainya. Tapi di satu sisi dia tidak bisa membohongi hati kecilnya bahwa ia tidak bisa melupakan Ustad Eliyas yang sangat dicintainya...
Di saat-saat seperti itu Husna bisa tabah dan bisa menutupi rasa sedih dan kebimbangannya,menurutku ia menjalaninya dengan tenang dan amat bijak,aku kagum,aku kagum,amat sangat kagum dengan kepribadiannya...
Aku mengalami apa yang Husna alami saat ini,tapi aku tidak bisa setegar dia,jangankan menutupi kesedihanku,bahkan aku menangis terisak-isak saat ditinggal sesorang yang berinisial U,yang mungkin sekarang sudah jauh melupakanku
Aku merasa Allah tidak adil padaku,aku tidak setabah Husna. Maafkan aku ya Allah,maafkan aku yang telah menyalahkanmu.
Aku ingin menjadi sepertinya,tegar,tabah,dan tetap elegant dimata laki-laki walaupun hati ini menangis...

1 komentar: